RADIXNEWS Selasa (25/2), sebagai bentuk evaluasi satu tahun kepemimpinan Maulana dan Diza. Aksi tersebut diwarnai dengan spanduk besar bertuliskan, “1 Tahun Kota Jambi Sengsara di Bawah Kepemimpinan Maulana–Diza.”
Dalam orasinya, massa menyampaikan kritik keras namun terstruktur terhadap capaian pemerintahan saat ini. Mereka menilai satu tahun kepemimpinan belum menghadirkan perubahan signifikan bagi masyarakat luas. “Kota Jambi bahagia untuk investor, pengusaha, dan pejabat, namun rakyatnya sengsara,” demikian bunyi salah satu spanduk yang dibentangkan di depan kantor pemerintahan.
Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang dinilai belum tertangani secara komprehensif, mulai dari kebersihan kota yang dinilai menurun, ruang publik yang kurang nyaman, hingga persoalan keamanan yang belum memberikan rasa aman secara menyeluruh. Kemacetan dan maraknya parkir liar di berbagai titik strategis turut menjadi simbol lemahnya penataan kota.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, banjir yang kerap terjadi serta kondisi jalan berlubang disebut sebagai bukti bahwa pembangunan infrastruktur belum berjalan efektif dan berkelanjutan. Massa juga menyinggung adanya proyek-proyek yang dinilai tidak tepat sasaran dan minim transparansi.
Di sektor pelayanan publik, mahasiswa menilai pemerintah kurang responsif terhadap keluhan warga. Layanan kesehatan, pendidikan, serta administrasi publik disebut belum menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan. Program-program yang digulirkan dinilai belum terarah dan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Para demonstran mendesak Pemerintah Kota Jambi untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas kinerja satu tahun terakhir serta membuka ruang dialog yang transparan dan partisipatif.
Hingga aksi berakhir, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Kota Jambi terkait tuntutan yang disampaikan massa.







