
RADIXNEWS, JAMBI – Pimpinan tertinggi keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Provinsi Jambi hari ini seolah bungkam.
Diam, acuh tak acuh, menyaksikan kader-kadernya sendiri menghadapi persoalan, bahkan ketika organisasi sedang “ditelanjangi” oleh pihak lain.
Khususnya IKA PMII, yang notabene dihuni oleh alumni-alumni hebat, orang-orang besar yang lahir dari rahim perjuangan yang sama.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun entah mengapa, kepekaan itu seperti hilang. Tidak terlihat ketajaman dalam membaca situasi, tidak tampak pula rasa prihatin atas apa yang sedang terjadi.
Masalah internal yang begitu nyata, dualisme cabang, konflik PKC, hingga bobroknya kondisi organisasi di Jambi, seakan bukan menjadi kegelisahan bersama.
Padahal dari rahim organisasi inilah mereka dulu ditempa, dibesarkan, dan dibanggakan.
Hingga akhirnya mencuatlah kasus yang menyeret kader PMII menjadi tersangka. Mereka dituduh melakukan pengeroyokan terhadap organisasi lain. Di tengah situasi itu, para kader justru berada dalam posisi yang paling sulit, menjerit dalam ketakutan, terjebak dalam dilema antara loyalitas terhadap organisasi dan amanah orang tua yang menyekolahkan mereka dengan harapan masa depan yang lebih baik.
Hari ini, kader hanya bisa bertanya dalam diam:
Ke mana para senior?
Ke mana tanggung jawab moral itu?
Apakah harus menunggu semuanya hancur baru ada kepedulian?
Apakah harus melihat kader satu per satu jatuh, baru hati itu tergerak?
Entah doa apa lagi yang harus dipanjatkan agar mampu mengetuk pintu hati mereka.
Karena bagi kami, ini bukan sekadar konflik organisasi.
Ini tentang marwah, tentang harga diri, dan tentang masa depan PMII di Jambi.
Editor : ADMIN


