
RADIXNEWS, JAMBI – 04 Mei 2026 Gerakan Mahasiswa Kota Jambi (GEMAKOJA) melaksanakan aksi demonstrasi di kantor DPRD Provinsi Jambi dan Kantor Gubernur Jambi sebagai bentuk keprihatinan sekaligus protes terhadap kondisi pendidikan di Provinsi Jambi yang dinilai semakin memprihatinkan.
Aksi ini berangkat dari momentum Hari Pendidikan Nasional yang seharusnya menjadi refleksi bagi pemerintah dalam memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan. Namun, bagi GEMAKOJA, momentum tersebut justru menunjukkan masih adanya berbagai persoalan mendasar dalam sektor pendidikan yang belum terselesaikan.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi yang diikuti oleh belasan mahasiswa ini juga bertepatan dengan Hari Buruh Internasional sebagai bentuk solidaritas terhadap isu keadilan sosial, termasuk dalam sektor pendidikan.
Aksi Teatrikal: Simbol “Kematian Pendidikan”
Salah satu momen yang mencuri perhatian dalam aksi tersebut adalah penampilan teatrikal yang menggambarkan “kematian pendidikan”.
Dalam aksi tersebut, salah seorang anggota demonstran berbaring di atas kain dengan taburan bunga di sekitarnya. Adegan ini menjadi simbol keprihatinan mendalam terhadap kondisi pendidikan yang dinilai semakin terpinggirkan akibat ketimpangan kebijakan, lemahnya pengawasan anggaran, serta kurangnya keberpihakan terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Sorot Ketimpangan dan Realitas di Lapangan
Dalam orasinya, Ketua Umum GEMAKOJA, M. Wanda Ramadani, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi nyata yang terjadi di lapangan.
Ia menyoroti kondisi siswa di SD 157 Bukit Berantai, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, yang terpaksa menyeberangi sungai dengan cara berenang akibat jembatan yang putus dan belum diperbaiki.
“Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan pendidikan, jika masih ada anak-anak yang harus mempertaruhkan keselamatannya hanya untuk pergi ke sekolah,” ujar M. Wanda Ramadani dalam orasinya.
Selain itu, ia juga menyinggung peristiwa tragis di Nusa Tenggara Timur, di mana seorang anak usia 10 tahun meninggal dunia setelah mengalami tekanan akibat keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar pendidikan seperti alat tulis dan buku.
“Kami tidak ingin tragedi seperti itu terjadi di Jambi. Negara harus hadir, memastikan setiap anak bisa sekolah dengan aman dan layak,” tegasnya.
Sorot Korupsi Pendidikan dan Kritik Kebijakan
Koordinator Lapangan Aksi, Hanif Ibnu Koyim, dalam orasinya menyoroti kondisi tata kelola pemerintahan di sektor pendidikan yang dinilai bermasalah.
Ia menyampaikan bahwa berbagai persoalan yang muncul, termasuk dugaan penyalahgunaan anggaran pendidikan, mencerminkan lemahnya integritas dan pengawasan dalam pengelolaan kebijakan publik.
“Kita melihat bagaimana tata kelola pemerintahan di sektor pendidikan masih jauh dari harapan. Dugaan penyalahgunaan anggaran pendidikan ini adalah cermin bahwa sistem pengawasan dan integritas masih perlu diperbaiki secara serius,” tegas Hanif Ibnu Koyim.
Desak Penuntasan Kasus Dugaan Korupsi DAK
Sementara itu, Koordinator Umum Aksi, M. Agung Bafadhal, dalam orasinya menyoroti dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) di sektor pendidikan yang mencederai kepercayaan publik.
Berdasarkan informasi yang berkembang, Polda Jambi telah melakukan penahanan terhadap sejumlah pihak, termasuk mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi berinisial VHP, serta pihak lain berinisial B dan D.
M. Agung Bafadhal mendesak agar proses hukum dilakukan secara transparan, menyeluruh, dan tanpa tebang pilih.
“Momentum Hardiknas seharusnya menjadi refleksi perbaikan, bukan diwarnai dengan persoalan korupsi yang justru merusak masa depan pendidikan,” tegasnya.
Tuntutan Aksi GEMAKOJA
Dalam aksi demonstrasi tersebut, GEMAKOJA menyampaikan tuntutan sebagai berikut:
1. Mendesak pemerintah untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama melalui pemerataan fasilitas dan peningkatan kualitas pembelajaran.
2. Mendorong penegakan hukum yang tegas dan transparan terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam dugaan korupsi sektor pendidikan.
3. Menolak segala bentuk kebijakan yang berpotensi mengganggu independensi kampus, termasuk masuknya program SPPG ke lingkungan kampus.
4. Mendesak evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tepat sasaran dan tidak membebani anggaran pendidikan.
Penutup
Aksi demonstrasi ini merupakan bentuk refleksi kritis mahasiswa dalam momentum Hari Pendidikan Nasional sekaligus komitmen untuk terus mengawal kebijakan publik.
GEMAKOJA menegaskan bahwa mahasiswa akan terus bergerak hingga ada langkah nyata dari pemerintah dalam memastikan pendidikan yang adil, merata, dan berpihak kepada rakyat.
Gerakan Mahasiswa Kota Jambi (GEMAKOJA)
Editor : ADMIN





