YOGYAKARTA — Di tengah berbagai keterbatasan ekonomi yang sering menjadi penghalang bagi banyak anak muda untuk mengenyam pendidikan tinggi, kisah Mujib Barohman menjadi bukti bahwa tekad, kerja keras, dan konsistensi mampu membuka jalan.
Putra dari keluarga petani ini baru saja menyelesaikan pendidikan magisternya (S2) dengan dukungan beasiswa. Perjalanan akademik yang ditempuhnya bukanlah kisah yang lahir dari kemewahan, melainkan dari perjuangan panjang seorang anak desa yang tumbuh dengan nilai-nilai kerja keras dan kesederhanaan.
Bagi Mujib, pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh gelar, tetapi juga jalan untuk mengubah kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Di balik keberhasilannya menyelesaikan studi S2, tersimpan cerita tentang pengorbanan orang tua yang setiap hari bekerja di kebun demi masa depan anak-anaknya.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebagai anak petani, saya memahami betul bahwa pendidikan adalah warisan paling berharga yang diberikan orang tua. Mereka mungkin tidak mewariskan kekayaan, tetapi mereka mewariskan kesempatan untuk bermimpi dan berjuang,” ungkapnya.
Semangat belajarnya terlihat sejak masa kuliah S1. Tidak hanya menempuh satu bidang keilmuan, Mujib memilih memperluas cakrawala akademiknya dengan menekuni dua disiplin ilmu yang berbeda, yakni Program Studi Sejarah Peradaban Islam dan Program Studi Hukum Tata Negara. Pilihan tersebut menunjukkan ketertarikannya yang besar terhadap kajian sejarah, peradaban, hukum, serta dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baginya, sejarah memberikan pemahaman tentang perjalanan peradaban manusia, sementara hukum tata negara menjadi instrumen untuk memahami sistem pemerintahan, demokrasi, dan kebijakan publik. Kombinasi kedua bidang ilmu tersebut membentuk cara pandangnya dalam melihat berbagai persoalan sosial secara lebih komprehensif.
Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, Mujib juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan. Rekam jejak organisasinya menunjukkan konsistensi dalam kepemimpinan sejak masa kuliah hingga jenjang pascasarjana.
Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Mahasiswa Pascasarjana Jambi-Yogyakarta dan Pengurus Besar PMII Bidang Agraria dan Tata Ruang periode 2025 hingga sekarang. Sebelumnya, ia pernah mengemban amanah sebagai Presiden Mahasiswa UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi periode 2023–2024, posisi yang menempatkannya sebagai salah satu representasi mahasiswa di tingkat kampus.
Pengalaman kepemimpinannya juga meluas di tingkat regional dan nasional. Ia pernah menjadi Koordinator Wilayah BEM Seluruh Indonesia (BEM-SI) Sumbagsel, Pengurus DEMA PTKIN Indonesia, Pengurus Cabang PMII Kota Jambi, serta aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kewirausahaan seperti HIPMI.
Perjalanan organisasinya dimulai dari tingkat program studi hingga kedaerahan . Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Gubernur Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, Wakil Ketua I PMII Rayon Adab, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Kumpeh, hingga Bendahara Umum Gerakan Mahasiswa Muaro Jambi.
Menurut rekan-rekannya, Mujib merupakan sosok yang mampu menjaga keseimbangan antara akademik dan aktivisme. Di tengah padatnya aktivitas organisasi, ia tetap fokus menyelesaikan studinya hingga meraih gelar magister melalui jalur beasiswa.
Keberhasilan tersebut menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana. Kisahnya menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan motivasi untuk bekerja lebih keras.
Dalam pandangannya, aktivisme dan pendidikan adalah dua hal yang saling melengkapi. Pendidikan memberikan landasan keilmuan, sementara organisasi membentuk karakter, kepemimpinan, serta kepekaan sosial terhadap persoalan masyarakat.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan S2, Mujib berkomitmen untuk terus berkontribusi bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, pemberdayaan pemuda, advokasi kebijakan publik, serta isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan rakyat.
Perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kemudahan. Terkadang, ia tumbuh dari jalan-jalan terjal yang ditempuh dengan kesabaran, kerja keras, dan keyakinan yang kuat.
Dari kebun yang menjadi tempat orang tuanya mencari nafkah hingga ruang-ruang akademik dan organisasi di tingkat nasional, Mujib Barohman membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih oleh siapa saja yang berani memperjuangkannya. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang gelar yang disandang, tetapi tentang bagaimana ilmu pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai perjuangan digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama dan membangun masa depan yang lebih baik.
Editor : Admin
Sumber Berita : Istimewa












