Kabupaten Tebo kembali diramaikan dengan narasi pencitraan politik menjelang dinamika politik 2029. Munculnya pemberitaan yang mengangkat sosok politisi muda Golkar, Dr. Feri Ariyanto, sebagai figur potensial dan visioner mulai menuai kritik dari sejumlah kalangan masyarakat.
Beberapa pengamat lokal menilai narasi tersebut terlalu prematur dan lebih mengedepankan pencitraan ketimbang rekam jejak nyata di tengah masyarakat.
“Rakyat hari ini tidak butuh sekadar sosok muda dengan gelar akademik. Yang dibutuhkan masyarakat adalah keberpihakan nyata terhadap persoalan ekonomi, harga sawit yang anjlok, jalan rusak, hingga lapangan kerja,” ujar salah satu tokoh pemuda Tebo yang enggan disebutkan namanya.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Sorotan itu muncul di tengah kondisi Kabupaten Tebo yang masih dibayangi berbagai persoalan daerah. Dalam beberapa pekan terakhir, DPRD Tebo bahkan menyoroti anjloknya harga sawit yang dikeluhkan petani.
Selain itu, polemik soal rencana pinjaman daerah Pemkab Tebo ke PT SMI juga menjadi perhatian publik karena dinilai belum transparan.
Kritik juga diarahkan kepada elite politik yang dinilai lebih sibuk membangun popularitas dibanding memperjuangkan isu strategis masyarakat.
“Kalau memang ingin disebut calon pemimpin masa depan, ukurannya bukan seberapa sering muncul di media, tapi apa yang sudah diperjuangkan untuk rakyat kecil,” lanjut sumber tersebut.
Di sisi lain, internal Partai Golkar Tebo sendiri saat ini masih didominasi figur-figur lama. Dalam Musda Golkar Tebo 2026, kepemimpinan kembali dipegang secara aklamasi oleh Khalis Mustiko sebagai Ketua DPD Golkar Tebo periode 2026–2031.
Hal itu dinilai menunjukkan bahwa regenerasi politik di tubuh Golkar belum sepenuhnya berjalan terbuka dan kompetitif.
Pengamat politik daerah menilai masyarakat kini semakin kritis terhadap kemunculan figur dadakan yang dibangun melalui media. Publik disebut tidak lagi mudah terpukau dengan slogan “muda dan visioner” tanpa kerja konkret di lapangan.
“Politik hari ini bukan soal pencitraan digital semata. Masyarakat ingin melihat keberanian bersikap terhadap persoalan daerah, bukan hanya tampil aman dan normatif,” ujar seorang aktivis mahasiswa di Jambi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Dr. Feri Ariyanto terkait munculnya kritik atas narasi pemberitaan tersebut.












