Yogyakarta – Di balik hiruk-pikuk kampus dan gemerlap acara wisuda, terselip sebuah kisah perjuangan yang mampu menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Seorang pemuda sederhana, anak dari penjual es tebu di pinggir jalan Kota Jambi, berhasil menorehkan prestasi gemilang. Ia bukan hanya lulus sebagai sarjana dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, tetapi juga dinobatkan sebagai salah satu Wisudawan berprestasi.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu orang tuanya menjajakan es tebu. Di bawah terik matahari, suara mesin peras tebu menjadi saksi bisu perjuangan keluarga ini. Dari hasil itulah biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi.
Dalam prosesi wisuda, namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan berprestasi, sebuah pencapaian yang tak hanya membuat kedua orang tuanya terharu, tetapi juga memberi motivasi bagi mahasiswa lain. “Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah halangan untuk meraih mimpi. Selama ada kemauan, doa, dan usaha, insyaAllah jalan akan terbuka,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Meski sering kali harus membagi waktu antara kuliah, belajar, dan membantu orang tua, semangatnya untuk terus berprestasi tidak pernah padam. Ia percaya bahwa keterbatasan ekonomi tidak bisa menghalangi seseorang untuk meraih cita-cita.
Prestasi yang Membanggakan
Selama kuliah, ia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, penelitian, serta mengikuti seminar dan lomba-lomba akademik. Selama duduk di bangku perkuliahan ia mendapat 2 medali emas syarhil qur’an internasional, 3 medali emas da’i nasional serta berbagai lomba di tingkat provinsi. Kerja kerasnya pun berbuah manis. Dalam momen wisuda, namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan terbaik dengan predikat Wisudawan Berprestasi.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Momen itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Tangis haru pecah dari kedua orang tua yang hadir di acara tersebut. Dari balik kursi undangan, ayah dan ibunya yang sehari-hari mengayuh hidup lewat gerobak es tebu, tampak bangga menyaksikan anak mereka berdiri gagah dengan toga dan selempang penghargaan.
Melanjutkan kisah ke Yogyakarta
Tak berhenti di situ, semangat belajarnya masih menyala. Dengan tekad yang kuat, ia kini melanjutkan pendidikan magister (S2) di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Baginya, ilmu bukan hanya bekal pribadi, tetapi juga sarana untuk memberikan manfaat kepada masyarakat luas. “Saya ingin membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan perubahan. Dari gerobak es tebu, insyaAllah suatu hari nanti saya bisa berdiri di depan kelas sebagai dosen dan menginspirasi generasi muda,” katanya penuh optimisme.
Inspirasi bagi Banyak Orang
Kisah perjuangan anak penjual es tebu ini sontak menjadi buah bibir, baik di kalangan mahasiswa maupun masyarakat Jambi. Banyak yang menilai bahwa kisahnya adalah bukti nyata bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat paling sederhana.
“Tidak ada yang mustahil jika kita mau berusaha. Anak penjual es tebu pun bisa menjadi sarjana berprestasi,” ujar salah satu dosennya memberi apresiasi.
Kini, langkahnya berlanjut di kota pelajar, Yogyakarta. Ia membawa doa dan harapan orang tua, serta mimpi besar untuk terus menimba ilmu dan mengangkat martabat keluarganya.
Dari gerobak es tebu yang sederhana, ia membuktikan bahwa pendidikan adalah tangga emas untuk mengubah masa depan.
Editor : Mujib Barohman
Sumber Berita : Istimewa


