Jambi Tak Akan Maju Jika Pola Pengelolaan Anggaran Tetap Seperti Ini
Oleh: Fauzan
Provinsi Jambi hari ini seperti rumah yang semakin runtuh, tetapi pemiliknya tetap sibuk mengecat dinding.
APBD merosot, pembangunan tertahan, keluhan publik meninggi — tetapi yang mendapat perhatian justru **rehab kantor**, seolah itu kebutuhan mendesak rakyat.
Sebagai penulis opini, saya melihat fenomena ini bukan lagi soal teknis anggaran, tetapi soal **gaya kepemimpinan** yang menurut banyak kalangan sudah jauh dari harapan.
—
## **APBD Menurun, Tetapi Reaksi Pemerintah Seperti Tidak Ada Darurat**
Dalam kacamata opini saya, penurunan APBD selama beberapa tahun terakhir menunjukkan ketidakmampuan pemerintah provinsi membaca arah ekonomi dan kebutuhan daerah.
Pemerintah terlihat menjalankan roda birokrasi seperti tidak ada krisis fiskal.
Seakan-akan merosotnya APBD adalah hal biasa — padahal publik melihatnya sebagai **sinyal bahaya**, bahkan sinyal kegagalan manajemen.
Banyak warga mempertanyakan, dan dalam opini saya wajar jika mereka bertanya:
**”Bagaimana mungkin APBD terus turun, tapi tidak ada terobosan dibuat?”**
—
## **Rehab Kantor Seperti Tradisi Baru, Sementara Rakyat Menunggu Pembangunan Nyata**
Salah satu hal yang paling menyayat logika publik adalah fenomena **menumpuknya proyek rehabilitasi kantor di PUPR**.
Jika dilihat dari kacamata opini, ini adalah gambaran paling ekstrem dari ketidakjelasan prioritas pembangunan.
Jalan rusak dibiarkan.
Akses publik banyak yang menunggu.
Infrastruktur dasar tertinggal.
Tapi gedung-gedung internal pemerintah justru *dibenahi berkali-kali.*
Dalam opini saya, inilah yang membuat publik semakin emosional.
Banyak yang mulai menyindir:
**“Jambi ini sedang membangun daerah atau membangun kenyamanan kursi di kantor?”**
—
## **Kepemimpinan Dianggap Tidak Sensitif Terhadap Kondisi Daerah**
Opini saya melihat bahwa banyak kritik tajam muncul karena masyarakat merasa gubernur tidak membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan daerah.
Penurunan APBD adalah peringatan keras,
tetapi pemerintah terkesan tidak memberikan reaksi cepat atau strategi besar untuk membalik keadaan.
Ketika proyek-proyek internal lebih banyak diperhatikan dibanding kebutuhan masyarakat, wajar jika publik menilai bahwa kepemimpinan hari ini **kurang responsif dan kurang adaptif**.
—
## **Jika Pola Ini Dibiarkan, Masa Depan Jambi Akan Gelap**
Dalam opini saya, Jambi sedang bergerak ke arah yang berbahaya:
anggaran mengecil, pembangunan tersendat, dan arah pemerintahan terlihat redup.
Potensi Jambi besar, tetapi potensi tidak berarti apa-apa jika anggaran terus menurun sementara fokus pembangunan tidak diarahkan kepada kebutuhan nyata masyarakat.
Jika pola ini tidak berubah, opini saya mengatakan:
**Jambi akan tertinggal jauh — bukan karena kurang potensi, tetapi karena buruknya prioritas.**
—
FAUZAN AKTIVIS JAMBI
Ini bukan serangan.
Ini peringatan.
Peringatan dari suara publik, aktivis, akademisi, dan siapapun yang masih peduli bahwa Jambi tidak selayaknya dikelola dengan cara seperti ini.
Pemerintah harus berbenah.
Jika tidak, sejarah akan mencatat bukan hanya penurunan APBD,
tetapi penurunan kualitas kepemimpinan.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT


