RADIXNEWS Jambi 17 April 2026 PMII pernah dikenal sebagai ruang dialektika yang hidup, tempat gagasan bertumbuh dan keberpihakan terhadap rakyat ditegaskan melalui aksi nyata. Jalanan menjadi saksi, diskusi menjadi nadi, dan kaderisasi menjadi fondasi. Namun kini, gelombang suara itu terasa kian meredup. Aksi-aksi yang dahulu menggema kini tak lagi menjadi identitas yang kuat. Diskusi yang semestinya menjadi ruh organisasi perlahan kehilangan daya tariknya di tengah pragmatisme yang menguat.
Di usia ke-66, PMII seharusnya tidak lagi sibuk mempertanyakan eksistensinya. Namun kenyataannya justru sebaliknya—pertanyaan mendasar kembali mencuat dari dalam tubuhnya sendiri. Adiansyah, sebagai kader PMII, dengan tegas menggugat: “Apakah PMII masih relevan untuk mahasiswa? Apakah Trilogi PMII masih dijalankan?” Pertanyaan ini bukan sekadar kritik, melainkan alarm keras atas kemunduran yang sedang terjadi.
Realitasnya pahit: PMII hari ini semakin jauh dari identitas gerakannya. Jalanan tidak lagi menjadi ruang artikulasi perlawanan, diskusi kehilangan nyawa, dan kaderisasi berubah menjadi rutinitas tanpa makna. PMII tidak lagi menjadi pusat produksi gagasan, melainkan perlahan berubah menjadi arena formalitas yang kering dari substansi.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang lebih memprihatinkan, konflik internal tak kunjung usai. Bukan konflik ideologis yang mencerdaskan, melainkan konflik kepentingan yang melelahkan. Energi kader terkuras bukan untuk berpikir dan bergerak, tetapi untuk mempertahankan posisi dan pengaruh. Solidaritas runtuh, kepercayaan antar kader menipis, dan organisasi berjalan tanpa arah yang jelas.
Kepemimpinan dalam tubuh PMII pun patut dipertanyakan. Banyak posisi strategis diisi bukan oleh mereka yang layak secara kapasitas dan integritas, tetapi oleh mereka yang kuat secara jaringan dan kepentingan. Akibatnya, organisasi kehilangan kompas. Tidak ada visi besar, tidak ada keberanian mengambil sikap, dan tidak ada keteladanan yang bisa dipegang kader.
Lebih parah lagi, PMII semakin terseret dalam pusaran politik praktis yang sempit. Organisasi ini tidak lagi berdiri sebagai kekuatan independen mahasiswa, melainkan rawan dijadikan kendaraan kepentingan. Kader tidak dibentuk menjadi pemikir kritis, tetapi justru diarahkan menjadi alat. Idealisme dikorbankan, dan gerakan kehilangan marwahnya.
AD/ART yang seharusnya menjadi konstitusi organisasi kini tak lebih dari dokumen formal yang mudah dilanggar. Aturan hanya berlaku bagi yang lemah, sementara yang memiliki kuasa bebas mengangkangi. Ini bukan lagi pelanggaran teknis—ini adalah krisis moral organisasi.
Di PMII Jambi, ironi ini terlihat jelas. Dengan basis massa yang besar di berbagai kampus, PMII seharusnya menjadi kekuatan dominan yang disegani. Namun mayoritas tanpa kualitas hanya melahirkan kerumunan tanpa arah. Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: apakah PMII masih mampu bersaing, atau hanya besar dalam angka tetapi kosong dalam makna?
Hari ini, PMII lebih menyerupai kapal tua—besar, tetapi rapuh. Diterpa ombak zaman yang semakin kompleks, ia tidak lagi cukup kuat untuk bertahan, apalagi memimpin perubahan. Ketiadaan figur inspiratif semakin memperparah keadaan. Tidak ada tokoh yang benar-benar menjadi rujukan intelektual dan moral. Yang tersisa hanyalah struktur tanpa jiwa.
Namun kritik ini tidak berhenti pada keputusasaan. Harlah ke-66 dengan slogan “Aksi Nyata PMII untuk Indonesia”justru harus menjadi titik balik—bukan seremoni kosong, tetapi momentum pembongkaran total terhadap penyakit internal organisasi.
PMII harus berani jujur: mengakui kegagalan, membersihkan kepentingan sempit, dan mengembalikan arah gerakan. Trilogi PMII tidak boleh lagi menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam praksis nyata. Diskusi harus dihidupkan kembali, kaderisasi harus dimurnikan, dan kepemimpinan harus direbut oleh mereka yang benar-benar layak.
Jika tidak, maka PMII hanya akan menjadi nama besar yang hidup dari masa lalu, tanpa masa depan. Dan sejarah tidak akan menunggu organisasi yang gagal berbenah





