Jambi- penganugerahan gelar adat oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi kepada Bupati Tebo setelah sebelumnya yang bersangkutan pernah dijatuhi sanksi adat sebelum Pilkada, adalah peristiwa yang patut dipertanyakan secara serius, bukan hanya oleh masyarakat adat, tetapi juga oleh publik luas.
Kita tidak sedang memperdebatkan siapa yang berhak memimpin secara administratif—itu ranah demokrasi elektoral. Namun
ketika adat dijadikan alat moral, maka ia harus berdiri tegak, konsisten, dan tidak boleh tunduk pada perubahan status kekuasaan.
Sebelum Pilkada, sanksi adat dijatuhkan dengan alasan yang jelas: pelanggaran nilai, etika, dan ketidakhormatan terhadap lembaga adat. Bahkan istilah “dibuang dari negeri” bukanlah simbol ringan dalam budaya Melayu. Itu adalah vonis moral yang berat dan bermakna dalam.
Namun publik bertanya:
Apa yang berubah setelah seseorang menjadi bupati?
Apakah kesalahan adat bisa gugur hanya karena jabatan?
Jika sanksi adat dapat dengan mudah berbalik menjadi gelar kehormatan tanpa penjelasan terbuka kepada masyarakat, maka yang tercederai bukan individu, melainkan marwah adat itu sendiri. Adat tidak boleh terlihat lunak kepada kekuasaan dan keras kepada rakyat biasa.
Lebih berbahaya lagi, ini memberi pesan keliru kepada generasi muda:
bahwa kuasa bisa menebus kesalahan tanpa proses pertanggungjawaban yang jelas.
Saya tidak menolak rekonsiliasi adat. Dalam tradisi Melayu, pintu maaf selalu terbuka. Tetapi rekonsiliasi harus dijelaskan secara terbuka, melalui mekanisme adat yang terang, bukan diam-diam lalu tiba-tiba berubah menjadi seremoni penganugerahan.
Jika tidak, maka publik berhak menduga:
bahwa adat sedang dipolitisasi, dan simbol budaya dijinakkan oleh kekuasaan.
Adat seharusnya menjadi penjaga etika pemimpin, bukan sekadar aksesoris jabatan.
Jika adat kehilangan keberaniannya untuk konsisten, maka ia akan kehilangan kehormatannya di mata rakyat.
Dan ketika itu terjadi, yang runtuh bukan hanya wibawa lembaga adat, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai luhur yang selama ini dijunjung tinggi.
Oleh : fauzan hasby


