
Setiap tanggal 6 Januari, Provinsi Jambi bersolek, umbul-umbul dipasang, pidato keberhasilan dibacakan dengan lantang, dan gedung dewan dipenuhi bunga ucapan selamat. Sebagai sebuah ritual tahunan, peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Jambi selalu berlangsung khidmat dan meriah. Namun, di balik riuh rendah tepuk tangan dan kemilau acara seremonial tersebut, terselip sebuah ironi yang menyesakkan dada.
Saat kita merayakan bertambahnya usia “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah”, kita justru dihadapkan pada pertanyaan mendasar yang menuntut kejujuran: Apakah kesejahteraan rakyat Jambi sudah setua usia provinsinya? Rasanya sulit untuk bertepuk tangan terlalu keras ketika di luar gedung pemerintahan, persoalan klasik masih menjadi “duri dalam daging” yang tak kunjung dicabut. Tengok saja benang kusut tata kelola angkutan batubara yang seolah abadi. Hingga detik ini, publik masih terus menagih janji konkret mengenai jalur khusus batubara yang tak kunjung tuntas.
Jalan raya yang sejatinya dibangun dengan uang rakyat untuk mobilitas publik, kini berubah menjadi arena pertaruhan nyawa. Kemacetan horor dan kerusakan jalan nasional akibat beban tonase berlebih bukan lagi berita baru, melainkan menu sehari-hari yang harus ditelan pahit oleh masyarakat. Pemerintah seringkali terlihat gamang, terjebak dalam dilema antara mengejar pendapatan daerah dan melindungi kenyamanan warganya sendiri. Aturan jam operasional seringkali hanya menjadi kertas macan yang dilanggar lewat aksi “kucing-kucingan” di lapangan.Ironi ini semakin tajam ketika kita melihat ketimpangan infrastruktur yang menganga lebar.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika kita hanya duduk di kawasan Telanaipura atau pusat pemerintahan, Jambi memang terlihat molek, tertata, dan maju. Namun, cobalah bergeser sedikit ke jalan penghubung antar-kabupaten atau masuk ke pelosok desa di wilayah Barat dan Hilir. Di sana, wajah Jambi yang sesungguhnya terungkap: jalan rusak, berlubang, dan berlumpur masih menjadi realitas yang menyedihkan. Distribusi hasil tani terhambat dan akses kesehatan menjadi barang mewah. Pembangunan terasa masih sangat sentralistik, seolah jargon “Jambi Mantap” atau slogan pembangunan lainnya tidak berlaku bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat kekuasaan. Kue pembangunan belum terbagi rata, menyisakan rasa ketidakadilan bagi warga di pelosok yang harus bertaruh nyawa hanya untuk melintasi jalan desa mereka.
Belum lagi jika kita berbicara soal lingkungan yang kian menjerit. Bencana ekologis seperti banjir yang kian sering terjadi dan meluas bukanlah semata “takdir Tuhan” atau curah hujan yang tinggi. Ini adalah akumulasi dari dosa-dosa pengelolaan lingkungan, mulai dari maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang mengeruhkan sungai hingga pengeboran minyak ilegal yang berbahaya. Penegakan hukum dalam sektor ini seringkali terasa tajam ke bawah namun tumpul ketika berhadapan dengan pemodal besar.
HUT Jambi seharusnya menjadi momen kontemplasi tata ruang: apakah kita sedang mewariskan mata air kehidupan, atau justru mewariskan air mata bencana untuk generasi Jambi berikutnya? Semua permasalahan ini bermuara pada satu hal: kualitas birokrasi dan pelayanan publik. Di era yang serba digital ini, keluhan mengenai birokrasi yang berbelit dan lambat masih terdengar nyaring. Mentalitas “minta dilayani” daripada “melayani” masih bercokol di beberapa sudut instansi. Transparansi anggaran dan akuntabilitas proyek pemerintah harus dibuka seluas-luasnya untuk menepis kecurigaan publik.
Pada akhirnya, di hari ulang tahun ini, rakyat Jambi tidak membutuhkan pesta rakyat yang menghabiskan anggaran besar jika esok harinya mereka masih harus berjibaku dengan debu batubara dan jalan berlubang. Jambi memiliki potensi yang luar biasa, namun potensi itu akan sia-sia tanpa tata kelola yang bersih, tegas, dan berpihak pada rakyat kecil. Selamat Ulang Tahun Provinsi Jambi. Kami menolak terlena oleh pidato manis. Kami menagih kerja nyata yang tuntas, bukan sekadar janji yang luntur tergerus hujan dan panas.
Penulis: Muhammad imam Arifin ( Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Jambi)


