
RADIXNEWS, JAMBI – Dalam lanskap politik dan pembangunan nasional hari ini, arah kebijakan negara tidak lagi sekadar berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana menyiapkan fondasi peradaban menuju Indonesia Emas 2045. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kita menyaksikan upaya serius untuk menggeser paradigma pembangunan dari yang bersifat jangka pendek menuju visi strategis jangka panjang.
Salah satu instrumen penting dalam kerangka tersebut adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini tidak hanya dapat dibaca sebagai kebijakan populis, tetapi sebagai investasi negara terhadap kualitas sumber daya manusia. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, sebagaimana dijelaskan oleh Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom, pembangunan sejatinya adalah proses memperluas kebebasan substantif manusia—termasuk kebebasan untuk hidup sehat, cerdas, dan produktif. Dalam konteks ini, MBG merupakan manifestasi konkret dari upaya negara dalam memperluas kapabilitas generasi muda Indonesia.
Lebih jauh, jika kita merujuk pada pemikiran Douglass North dalam Institutions, Institutional Change and Economic Performance, keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan kebijakan publik yang menopangnya. MBG dapat dilihat sebagai bagian dari reformasi institusional dalam sektor kesejahteraan sosial dan pendidikan, yang bertujuan menciptakan generasi dengan daya saing tinggi.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Generasi Emas 2045 bukanlah narasi kosong. Ia adalah target demografis sekaligus ideologis. Indonesia sedang berada pada bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif mencapai puncaknya. Namun, tanpa intervensi kebijakan yang tepat, bonus ini justru bisa berubah menjadi beban demografi. Di sinilah relevansi MBG menjadi sangat strategis: memastikan bahwa generasi muda tidak hanya banyak secara kuantitas, tetapi juga unggul secara kualitas.
Dalam perspektif politik, kebijakan seperti MBG juga memperlihatkan bagaimana negara hadir secara konkret dalam kehidupan rakyat. Sebagaimana diungkapkan oleh Francis Fukuyama dalam Political Order and Political Decay, legitimasi negara modern sangat ditentukan oleh kapasitasnya dalam memberikan pelayanan publik yang efektif. MBG, jika diimplementasikan dengan baik, akan memperkuat kepercayaan publik terhadap negara dan memperkokoh stabilitas politik nasional.
Sebagai Tokoh Pemuda Jambi dan Aktivis Nasional, saya memandang bahwa kebijakan ini harus dikawal secara kritis namun konstruktif. Dukungan terhadap pemerintah bukan berarti menghilangkan fungsi kontrol, tetapi memastikan bahwa setiap kebijakan berjalan tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.
Kita tidak boleh terjebak dalam polarisasi politik yang sempit. Agenda besar bangsa ini jauh melampaui kepentingan elektoral lima tahunan. Indonesia Emas 2045 membutuhkan kolaborasi lintas generasi, lintas sektor, dan lintas kepentingan. Pemerintah telah meletakkan fondasi, dan kini tanggung jawab kita sebagai generasi muda adalah memastikan fondasi tersebut tumbuh menjadi bangunan peradaban yang kokoh.
Presiden Prabowo, melalui kebijakan strategis seperti MBG, telah mengirimkan pesan kuat bahwa masa depan Indonesia dimulai dari hari ini—dari piring makan anak-anak Indonesia, dari kualitas gizi mereka, dan dari keberanian negara untuk berinvestasi pada manusia.
Jika konsistensi ini terus dijaga, maka Generasi Emas 2045 bukan sekadar cita-cita, melainkan keniscayaan sejarah.
Editor : Admin




