KILAU PIALA DALAM GELAP EKONOMI PERANGKAT DESA

Avatar

- Redaksi

Senin, 6 April 2026 - 11:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maret 2026 seharusnya menjadi bulan yang penuh kebanggaan bagi Kabupaten Batang Hari. Di Jakarta, sang pemimpi baru saja melangkah di atas panggung megah untuk menerima penghargaan Cahaya Hati Award 2026. Sebuah apresiasi yang mentereng, menyebut sang pemimpin sebagai sosok inovatif dengan dedikasi nyata pada aspek humanis dan sosial. Namun, di balik riuh tepuk tangan di ibu kota, ada sunyi yang menyesakkan di balai-balai desa pelosok Batang Hari.

Kontradiksi ini terasa begitu getir: Sang pemimpin dianugerahi penghargaan karena dianggap “peduli pada kemandirian masyarakat,” sementara ribuan perangkat desanya—ujung tombak pelayanan publik terdepan—dikabarkan belum menerima gaji selama enam bulan lamanya.

Kemanusiaan yang Terlupakan?

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aspek “humanis” yang menjadi dasar penghargaan Cahaya Hati Award seolah menjadi paradoks saat kita menilik nasib perangkat desa. Enam bulan tanpa penghasilan tetap (Siltap) bukan sekadar angka di atas kertas laporan keuangan daerah. Ini adalah tentang urusan dapur yang tak lagi mengepul, biaya sekolah anak yang tertunggak, hingga beban psikologis para pelayan masyarakat yang dipaksa tetap “tersenyum” melayani warga di tengah himpitan ekonomi pribadi.

Jika seorang pemimpin disebut sukses dalam aspek sosial, bukankah kesejahteraan orang-orang yang membantunya menjalankan roda pemerintahan seharusnya menjadi prioritas utama? Perangkat desa adalah fondasi pembangunan. Tanpa kepastian hak mereka, narasi kemajuan daerah yang digembor-gemborkan akan terasa hampa dan artifisial.

Inovasi atau Sekadar Seremonial?

Inovasi dalam kepemimpinan tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur atau aplikasi digital, tetapi juga dari ketepatan manajemen tata kelola keuangan. Keterlambatan gaji yang mencapai setengah tahun menunjukkan adanya sumbatan serius dalam sistem administrasi atau prioritas anggaran.

Sangat disayangkan jika energi daerah lebih banyak terserap untuk mengejar pengakuan formal di tingkat nasional, sementara kewajiban dasar di tingkat lokal terabaikan. Penghargaan adalah beban moral. Ia menuntut pembuktian bahwa label “pemimpin peduli” bukan sekadar dekorasi dinding kantor, melainkan napas dari setiap kebijakan yang diambil.

Baca Juga :  Uskalla! Nainen työelämässä | PDF

Penghargaan Cahaya Hati Award menyebutkan kontribusi nyata sang Bupati dalam “kemandirian masyarakat.” Namun, bagaimana masyarakat desa bisa mandiri jika penggerak desanya sendiri berada dalam kondisi finansial yang rentan? Ketidakpastian gaji adalah musuh utama profesionalisme.

Kita tentu mengapresiasi setiap prestasi yang membawa nama harum Jambi, khususnya Batang Hari. Namun, masyarakat hari ini sudah cukup cerdas untuk membedakan mana kilau piala dan mana cahaya nyata di dalam rumah-rumah mereka.

Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Batang Hari menyelaraskan prestasi di Jakarta dengan realitas di Bumi Serentak Bak Regam. Penghargaan Cahaya Hati Award 2026 harus menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan.

Bupati harus segera menunjukkan aksi “humanis” yang sesungguhnya: memastikan hak para perangkat desa dibayarkan tanpa tunda lagi. Sebab, pemimpin yang benar-benar bercahaya hatinya adalah ia yang tidak akan membiarkan orang-orang yang membantunya bekerja meraba-raba dalam kegelapan ekonomi.

Jangan sampai piala yang dibawa pulang ke Batang Hari terasa berat, bukan karena emasnya, melainkan karena beban keringat para perangkat desa yang belum tertunaikan haknya.

Berita Terkait

Presiden Prabowo, MBG, dan Generasi Emas Indonesia 2045 Oleh: Muhammad Putra Ramadhan — Tokoh Pemuda Jambi & Aktivis Nasional
Mahasiswa Jambi di Pulau Jawa Dapat Fasilitas Mudik Gratis dari Rocky Candra, Dilepas di Gedung DPR/MPR RI
Oleh: Insan Nurrohman, S.I.P. “Curhatan Seorang Kader”
Anggota HMI Soroti Dugaan Kejanggalan Izin Keluar Narapidana, Desak Menteri Turunkan Tim Usut Lapas Jambi
Rangga H. Wibowo: Polemik DAK dan Peristiwa Bank 9 Jambi, Alarm Bagi Pemerintahan Daerah
Sikap Tegas DEMA-PTKIN Se-Indonesia: Kawal Kasus Kecelakaan Kerja dan Kerusakan Lingkungan PT AJC ke Jalur Hukum!
KOPRI PMII Universitas Jambi Gelar Diskusi Hari Perempuan, Angkat Isu Gender, Keislaman, dan Kriminalitas
Gelombang kekecewaan terhadap kondisi daerah akhirnya memuncak. Pemuda, mahasiswa, dan masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur bersiap turun ke jalan

Berita Terkait

Senin, 6 April 2026 - 12:20 WIB

DUGAAN SKANDAL FEE ANGGARAN REVITALISASI SD DAN PAUD DISDIK TANJAB TIMUR SISTEMATIS YANG MENGGURITA

Senin, 6 April 2026 - 11:22 WIB

KILAU PIALA DALAM GELAP EKONOMI PERANGKAT DESA

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:21 WIB

Presiden Prabowo, MBG, dan Generasi Emas Indonesia 2045 Oleh: Muhammad Putra Ramadhan — Tokoh Pemuda Jambi & Aktivis Nasional

Jumat, 27 Maret 2026 - 17:18 WIB

Supremasi Sipil dalam Ujian

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:29 WIB

Mahasiswa Jambi di Pulau Jawa Dapat Fasilitas Mudik Gratis dari Rocky Candra, Dilepas di Gedung DPR/MPR RI

Minggu, 15 Maret 2026 - 23:37 WIB

Anggota HMI Soroti Dugaan Kejanggalan Izin Keluar Narapidana, Desak Menteri Turunkan Tim Usut Lapas Jambi

Minggu, 15 Maret 2026 - 04:33 WIB

Rangga H. Wibowo: Polemik DAK dan Peristiwa Bank 9 Jambi, Alarm Bagi Pemerintahan Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 - 02:54 WIB

Sikap Tegas DEMA-PTKIN Se-Indonesia: Kawal Kasus Kecelakaan Kerja dan Kerusakan Lingkungan PT AJC ke Jalur Hukum!

Berita Terbaru

Berita

KILAU PIALA DALAM GELAP EKONOMI PERANGKAT DESA

Senin, 6 Apr 2026 - 11:22 WIB

DOK: Mujib Barohman Aktivis Jambi dan Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Jogja

Opini

Supremasi Sipil dalam Ujian

Jumat, 27 Mar 2026 - 17:18 WIB