Keresahan Publik atas Ekspansi Militer ke Ranah Sipil Menguat di Jambi, Diskusi Publik Serukan: Kembalikan TNI ke Barak

Avatar

- Redaksi

Sabtu, 11 April 2026 - 21:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jambi, 10 April — Menguatnya keterlibatan militer dalam ruang sipil memicu kegelisahan serius di tengah masyarakat. Berangkat dari kesadaran kritis tersebut, sebuah diskusi publik di jambi digelar pada Kamis (10/4) dengan tema “Demokrasi dalam Ancaman: Kekerasan terhadap Warga Sipil dan Rapuhnya Supremasi Sipil di Indonesia.” Forum ini menjadi ruang artikulasi keresahan kolektif atas gejala yang dinilai semakin mengkhawatirkan: kaburnya batas antara kekuasaan militer dan otoritas sipil dalam praktik demokrasi Indonesia.

Diskusi ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan respons atas rangkaian peristiwa yang menunjukkan kecenderungan meningkatnya peran militer di luar fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara. Dalam sistem demokrasi yang sehat, militer ditempatkan secara profesional dan tunduk pada supremasi sipil. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, batas tersebut dinilai mulai terkikis.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan utama dalam diskusi ini adalah dugaan keterlibatan aparat intelijen militer dalam peristiwa yang menimpa Andrie Yunus. Kasus ini dipandang sebagai refleksi nyata dari persoalan struktural yang lebih besar—yakni bagaimana warga sipil berpotensi berhadapan dengan kekuatan militer di luar mekanisme hukum yang transparan dan akuntabel. Bagi para peserta diskusi, peristiwa ini bukan sekadar insiden, melainkan alarm keras bagi masa depan supremasi sipil di Indonesia.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam forum tersebut, para pembicara menegaskan bahwa dalam negara demokrasi modern, militer tidak boleh mengambil peran yang berada di luar mandatnya. Keterlibatan militer dalam urusan sipil tanpa kontrol yang ketat bukan hanya melanggar prinsip profesionalisme, tetapi juga membuka ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan. Ketika militer hadir di ruang sipil, maka relasi antara negara dan warga menjadi tidak setara—dan pada titik itu, demokrasi mulai kehilangan maknanya.

Baca Juga :  LATE! A Timebender's guide to why we are late and how we can change - Download Free Books

Lebih jauh, isu kekerasan terhadap warga sipil menjadi titik krusial yang tidak bisa diabaikan. Diskusi menyoroti bahwa lemahnya akuntabilitas dalam penanganan kasus-kasus yang melibatkan aparat negara, termasuk dalam kasus Andrie Yunus, justru memperdalam krisis kepercayaan publik. Ketika hukum tidak ditegakkan secara adil dan transparan, maka prinsip equality before the law hanya berhenti sebagai retorika tanpa substansi.

Forum ini juga menegaskan bahwa supremasi sipil bukan sekadar konsep normatif dalam teori demokrasi, melainkan fondasi utama negara hukum yang harus diwujudkan dalam praktik. Supremasi sipil menuntut agar seluruh institusi negara termasuk militer berada di bawah kontrol otoritas sipil dan tunduk pada hukum yang berlaku. Tanpa itu, demokrasi akan terus berada dalam bayang-bayang otoritarianisme yang terselubung.

Sebagai hasil dari diskusi tersebut, forum secara kolektif menyampaikan pernyataan sikap dan tuntutan sebagai berikut:
1. Mengecam keras tindakan penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus sebagai bentuk kekerasan brutal yang mencederai nilai kemanusiaan dan menjadi ancaman serius bagi demokrasi di Indonesia.
2. Menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan bentuk teror terhadap kebebasan berpendapat dan upaya sistematis membungkam suara kritis masyarakat sipil.
3. Mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini secara transparan, independen, dan tanpa intervensi, termasuk mengungkap seluruh aktor yang terlibat baik pelaku lapangan maupun aktor intelektual di baliknya.
4. Menuntut agar setiap oknum aparat, termasuk dari institusi militer, yang terbukti terlibat diproses melalui peradilan umum sebagai bentuk penegakan supremasi sipil dan kesetaraan di hadapan hukum.
5. Menolak segala bentuk impunitas karena pembiaran terhadap kasus ini akan menjadi preseden buruk bagi perlindungan HAM dan masa depan demokrasi Indonesia.
6. Menuntut perlindungan maksimal bagi korban, keluarga korban, serta seluruh aktivis HAM agar tidak terjadi teror lanjutan yang semakin mempersempit ruang sipil.
7. Menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil adalah indikator kemunduran demokrasi dan bukti rapuhnya kontrol sipil terhadap kekuasaan.
8. Mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya mahasiswa dan pemuda, untuk bersolidaritas dan mengawal kasus ini hingga keadilan benar-benar ditegakkan.
9. Mendesak pimpinan institusi terkait untuk membuka secara terang benderang rantai komando dan bertanggung jawab secara institusional atas keterlibatan anggotanya.
Lebih dari itu, forum ini secara eksplisit menyerukan satu pesan yang tidak boleh diabaikan: kembalikan TNI ke barak. Seruan ini bukan bentuk antipati terhadap institusi militer, melainkan penegasan atas prinsip dasar demokrasi—bahwa militer harus profesional, netral, dan tidak mencampuri urusan sipil. Hanya dengan cara itulah kepercayaan publik dapat dipulihkan dan demokrasi dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Baca Juga :  KPK DI JAMBI SEPERTI MACAN PATAH TARING — ADA TAPI TAKUT MENGAUM!”

Diskusi ini juga menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia melemah secara perlahan melalui pembiaran terhadap pelanggaran, melalui normalisasi kekerasan, dan melalui diamnya publik terhadap penyimpangan kekuasaan. Oleh karena itu, menjaga supremasi sipil bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga menjadi kewajiban moral seluruh warga negara.

Di tengah situasi ini, sikap kritis masyarakat sipil menjadi benteng terakhir bagi keberlangsungan demokrasi. Sebab ketika kontrol sipil melemah dan militer mulai melampaui batasnya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hak-hak warga, tetapi juga arah masa depan Indonesia sebagai negara hukum yang demokratis.

Editor : Mujib Barohman

Sumber Berita : Istimewa

Berita Terkait

GEMAKOJA: Militer Masuk Ranah Sipil, Alarm Bahaya Bagi Demokrasi Indonesia
TEBO DARURAT JALAN RUSAK: AKTIVIS SOROT KINERJA DPRD DAN GUBERNUR, BETUNG–PINTAS PALING KRITIS
RATUSAN MASA PMII JAMBI PADATI KANTOR MAPOLDA JAMBI,KASUS SELESAI KEMBALI KE RESTORATIF JUSTICE,INI BENTROKAN BUKAN PENGEROYOKAN!!
KILAU PIALA DALAM GELAP EKONOMI PERANGKAT DESA
Presiden Prabowo, MBG, dan Generasi Emas Indonesia 2045 Oleh: Muhammad Putra Ramadhan — Tokoh Pemuda Jambi & Aktivis Nasional
Mahasiswa Jambi di Pulau Jawa Dapat Fasilitas Mudik Gratis dari Rocky Candra, Dilepas di Gedung DPR/MPR RI
Oleh: Insan Nurrohman, S.I.P. “Curhatan Seorang Kader”
Anggota HMI Soroti Dugaan Kejanggalan Izin Keluar Narapidana, Desak Menteri Turunkan Tim Usut Lapas Jambi

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 00:29 WIB

GEMAKOJA: Militer Masuk Ranah Sipil, Alarm Bahaya Bagi Demokrasi Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 21:20 WIB

Keresahan Publik atas Ekspansi Militer ke Ranah Sipil Menguat di Jambi, Diskusi Publik Serukan: Kembalikan TNI ke Barak

Jumat, 10 April 2026 - 22:10 WIB

TEBO DARURAT JALAN RUSAK: AKTIVIS SOROT KINERJA DPRD DAN GUBERNUR, BETUNG–PINTAS PALING KRITIS

Jumat, 10 April 2026 - 04:38 WIB

RATUSAN MASA PMII JAMBI PADATI KANTOR MAPOLDA JAMBI,KASUS SELESAI KEMBALI KE RESTORATIF JUSTICE,INI BENTROKAN BUKAN PENGEROYOKAN!!

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:21 WIB

Presiden Prabowo, MBG, dan Generasi Emas Indonesia 2045 Oleh: Muhammad Putra Ramadhan — Tokoh Pemuda Jambi & Aktivis Nasional

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:29 WIB

Mahasiswa Jambi di Pulau Jawa Dapat Fasilitas Mudik Gratis dari Rocky Candra, Dilepas di Gedung DPR/MPR RI

Rabu, 18 Maret 2026 - 04:40 WIB

Oleh: Insan Nurrohman, S.I.P. “Curhatan Seorang Kader”

Minggu, 15 Maret 2026 - 23:37 WIB

Anggota HMI Soroti Dugaan Kejanggalan Izin Keluar Narapidana, Desak Menteri Turunkan Tim Usut Lapas Jambi

Berita Terbaru