Pertambangan Yang Tak Terkendali Merusak Ekosistem Sungai, Lingkungan Hidup, dan Kebudayaan di Jambi

Avatar

- Redaksi

Rabu, 14 Agustus 2024 - 15:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RADIXNEWS,JAMBI-Penulis : Irwanda Nauufal Idris – Extinction Rebellion Jambi

Kesinambungan atau keterhubungan antara manusia dan alam merupakan salah satu kearifan yang diwariskan oleh leluhur kita dari ribuan tahun yang lalu, yang mana manusia mampu beradaptasi dengan lingkungan dan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti pangan, sandang dan papan.

 

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Manusia tidak bisa lepas dari rasa syukur atas lingkungan yang menghidupi manusia, bentuk syukur tersebut diekspresikan dalam tradisi kebudayaan yang beragam di Indonesia, mereka sangat menghargai alam yang telah memberikan kehidupan, seperti pangan, di masyarakat kita adanya doa-doa dan tarian dalam membuat benih tanaman hingga saat istiadat setempat dalam menyambut panen raya sebagai rasa syukur dengan bentuk kebudayaan serta kearifan lokal masyarakat kita.

 

Dan hari ini industri batubara merusak ekositem budaya di Indonesia, jelas di beberapa wilayah di Indonesia daerah yang ditinggalkan pasca penggalian industri pertambangan batubara akan mengalami kerusakan dan kehancuran jangka panjang, begitupun di provinsi Jambi kita akan menghadapi situasi yang sama.

 

Apa sih keterhubungan lingkungan dan kebudayaan?

 

Budaya tercipta atas kearifan lokal dan keterhubungan antara manusia dan alam, dahulu kita masyarakat Indonesia atau di nusantara, diwarisi kebudayaan yang Arif oleh para leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, seperti di Jambi kita memiliki kebudayaan panen raya, adanya tarian dan musik tradisional yang dimainkan oleh masyarakat desa saat menyambut panen raya.

 

Namun hari ini, kebudayaan itu semakin tergerus dan terancam oleh ekspansi industri pertambangan, baik pertambangan batubara, pertambangan emas tanpa izin (PETI) dan di peruntukan untuk lahan HTI terdiri dari kelas perusahaan kayu pertukangan, kayu energi, kayu serat, dan hasil hutan bukan kayu, sehingga semakin mempersempit ruang hidup masyarakat di provinsi jambi.

Baca Juga :  Kunjungan Srena Mabes Polri ke Ditpolairud Polda Jambi Cek Aset PLN dan PDN Kewilayahan

 

kerusakan lingkungan akibat industri batubara yang tak terkendali mengakibatkan kerusakan kebudayaaan masyarakat jambi, perubahan perilaku sosial masyarakat, masyarakat desa yang dahulunya produktif dengan cara bertani, sekarang hidup dengan pola konsumtif.

 

Jelas ekspansi pertambangan yang ugal-ugalan ini menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pangan lokal maupun nasional, kerusakan lingkungan hidup yang diwariskan oleh pemerintah dan pengusaha hari ini, merupakan suatu masalah serius dan jangka panjang yang akan dihadapi oleh generasi muda jambi khususnya.

 

Sebagai contoh, pencemaran sungai akibat pertambangan nikel di bangka belitung, mengatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli lingkungan disana, bahwa air sungai tersebut tidak dapat lagi dikonsumsi dalam kurun waktu 15 tahun kedepan, sungai yang telah tercemar itu harus dipulihkan kembali dalam jangka waktu minimal 15 tahun, setelah jangka waktu tersebut barulah sungai itu dapat dikonsumsi kembali.

 

Dan bagaimana kondisi kita di Jambi?Apakah kita memang baik-baik saja?

 

Di beberapa daerah seperti Sarolangun dan Muaro Jambi sudah mengalami risis air bersih, pencemaran udara akibat debu batubara, serta penyakit kulit yang diderita masyarakat pinggiran sungai, hal ini disebabkan oleh banyaknya aktivitas pencemaran yang berkonsentrasi pada sungai batanghari kita, setiap hari nya, lebih dari 2 juta jiwa mengkonsumsi air sungai batanghari, dan apakah kita sedang baik-baik saja?

 

Hasil riset yang dilakukan oleh tim peneliti dari ecoton yang dilakukan pada pintu air yang ada di kota Jambi yang juga berdekatan dengan PDAM atau pipa PDAM Jambi, hasil dari penelitian kualitas air yang mereka keluarkan adalah air kita tercemar, didominasi oleh kandungan logam berat dan mikroplastik, hal inilah yang kita konsumsi setiap hari, apakah kita sedang baik-baik saja?

Baca Juga :  Tambang ilegal bebas beroperasi di Karang berahi,Ada nya dugaan Kangkalikong Kades Karang Berahi

Air yang tercemar banyak mengandung organisme yang berbahaya dan menyebabkan banyak penyakit. Umumnya, organisme tersebut mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama sampai ditransmisikan ke tubuh manusia, seperti cacing-cacing parasit, bakteri-bakteri patogen, dan lain-lain.

 

Pencemaran lingkungan yang terjadi tanpa disadari akan menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan atau ekosistem yang ada, sebab pencemaran akan merusak kedaan yang mulanya baik menjadi tidak baik. ketika terjadi pencemaran akan banyak yang terganggu, bukan hanya manusia namun hewan dan juga tumbuhan.

 

Sebagai manusia terdidik dan menjunjung tinggi integritas, kita harus menyampaikan kebenaran dan fakta yang terjadi, hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk berupaya memulihkan kembali lingkungan yang layak dan bersih, untuk generasi muda jambi yang lebih baik.

 

Editor : Admin

Berita Terkait

“Skandal Dana DAK Mengemuka: Gubernur Jambi di Tengah Pusaran Pertanyaan Publik”
Gubernur Jambi dan Bayang-Bayang Kasus DAK: Transparansi yang Diuji di Panggung Hukum
Transparansi Anggaran DAK Pendidikan: Dugaan Korupsi di Era Kepemimpinan Provinsi Jambi
Aktivis Jambi: Penyebutan Gubernur Jambi Al Haris dalam Persidangan Korupsi DAK Rp21,8 Miliar Harus Dijelaskan ke Publik
Satu Tahun Al-Haris di Periode ke 2, “Ketika Beton Lebih Cepat Tumbuh Daripada Lapangan Kerja, Ada Yang Salah Dengan Arah Pembangunan Jambi.”
Dana Kesehatan Diduga Disunat, DEMA PTKIN SE-INDONESIA Bawa Kasus BOK Muaro Jambi ke Kejagung RI
1 Tahun Kepemimpinan Maulana-diza,Puluhan mahasiswa dan pemuda menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Jambi.
Ketika Sekolah Membiarkan Api Menjadi Kebakaran: Pelajaran Pahit dari Konflik Guru dan Murid di Tanjabtim

Berita Terkait

Rabu, 4 Maret 2026 - 04:53 WIB

“Skandal Dana DAK Mengemuka: Gubernur Jambi di Tengah Pusaran Pertanyaan Publik”

Rabu, 4 Maret 2026 - 04:46 WIB

Gubernur Jambi dan Bayang-Bayang Kasus DAK: Transparansi yang Diuji di Panggung Hukum

Selasa, 3 Maret 2026 - 02:03 WIB

Aktivis Jambi: Penyebutan Gubernur Jambi Al Haris dalam Persidangan Korupsi DAK Rp21,8 Miliar Harus Dijelaskan ke Publik

Selasa, 3 Maret 2026 - 01:35 WIB

Satu Tahun Al-Haris di Periode ke 2, “Ketika Beton Lebih Cepat Tumbuh Daripada Lapangan Kerja, Ada Yang Salah Dengan Arah Pembangunan Jambi.”

Rabu, 25 Februari 2026 - 15:57 WIB

1 Tahun Kepemimpinan Maulana-diza,Puluhan mahasiswa dan pemuda menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Jambi.

Kamis, 19 Februari 2026 - 17:24 WIB

MAHASISWA JAMBI LAPORKAN DINKES TANJAB TIMUR KE KEMENKES, TERKAIT PELANGGARAN PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PUSKESMAS

Minggu, 11 Januari 2026 - 00:19 WIB

Dana Siluman 57 Milyar Pada APBD Jambi 2026: Pelanggaran Hukum dan Pengkhianatan Mandat Rakyat

Selasa, 6 Januari 2026 - 21:23 WIB

Mhd Iidfi Hanif: HUT Ke-69 Jambi Harus Jadi Momentum Evaluasi dan Keberpihakan pada Rakyat

Berita Terbaru