Problem Solving: Seni Menemukan Jalan Keluar

Avatar

- Redaksi

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pernahkah kamu berada di dalam kelas dan dihadapkan pada sebuah soal atau tugas yang

tampak begitu rumit? Kamu sudah membaca materi berkali-kali, berdiskusi dengan teman,

bahkan mencari referensi tambahan, tetapi solusi yang tepat masih terasa sulit ditemukan. Di

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

tengah tuntutan akademik yang semakin kompleks, banyak siswa dan mahasiswa mengalami

kebingungan ketika harus menganalisis masalah, menentukan strategi penyelesaian, dan

mengambil keputusan yang tepat. Situasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam belajar

tidak hanya bergantung pada kemampuan menghafal materi, tetapi juga pada keterampilan

problem solving yang dimiliki seseorang.

Jika kamu pernah merasakan itu, kamu tidak sendirian. Dan yang lebih penting, ada penjelasan

ilmiah mengapa otak kita sering merasa kewalahan dan ada juga cara-cara yang telah terbukti

secara ilmiah untuk menghadapinya. Itulah yang disebut problem solving atau kemampuan

pemecahan masalah.

Apa Sebenarnya Problem Solving Itu?

Dalam ilmu psikologi, problem solving didefinisikan sebagai proses kognitif-perilaku yang

diarahkan oleh diri sendiri, di mana seseorang berusaha menemukan solusi yang efektif untuk

menghadapi masalah-masalah spesifik dalam kehidupan sehari-hari. Definisi ini pertama kali

dirumuskan oleh D’Zurilla dan Goldfried pada tahun 1971, dan hingga hari ini masih menjadi

fondasi utama dalam penelitian psikologi klinis dan pendidikan.

Lebih sederhana lagi, para psikolog menjelaskan bahwa ketika kita berhadapan dengan suatu

masalah, otak kita menjalani tiga langkah utama: pertama, membentuk representasi atau

gambaran tentang masalah tersebut; kedua, merencanakan strategi pendekatan dan ketiga,

mengeksekusi strategi itu sambil terus mengevaluasi hasilnya (EBSCO Research, 2024).

Urutan dasar ini berulang setiap kali kita menghadapi tantangan baru.

Yang menarik, para peneliti dari University of California dalam jurnal Frontiers in Psychology

(2024) menegaskan bahwa problem solving adalah domain luas dari perilaku manusia yang

diarahkan oleh tujuan. Artinya, kemampuan ini bukan hanya tentang menyelesaikan soal

matematika atau tugas kantor, melainkan seluruh dimensi kehidupan kita yang membutuhkan

keputusan dan tindakan (Rhodes, Richland, & Alcálá, 2024).

Dua Wajah Problem Solving: Orientasi Positif vs. NegatifBayangkan dua orang mahasiswa yang sama-sama mendapat nilai buruk di ujian. Mahasiswa

A langsung berpikir: “Oke, berarti metode belajarku perlu diperbaiki. Apa yang bisa

kulakukan?” Sementara mahasiswa B langsung tenggelam dalam pikiran: “Ini bencana. Aku

memang bodoh. Tidak ada gunanya mencoba.”

Dalam kerangka teori D’Zurilla dan Nezu (1999) yang dikembangkan lebih lanjut hingga kini,

perbedaan ini menggambarkan apa yang disebut problem orientation, yaitu skema meta-

kognitif yang relatif stabil dalam diri seseorang ketika menghadapi masalah. Orientasi ini

terbagi menjadi dua:

Baca Juga :  Menuai Pro-Kontra: Kesepakatan bersama Indonesia–Tiongkok mengenai Laut China Selatan

1. Orientasi Positif: Memandang masalah sebagai tantangan yang bisa diatasi, percaya

bahwa solusi bisa ditemukan, dan bersedia meluangkan waktu serta energi untuk

memecahkannya.

2. Orientasi Negatif: Memandang masalah sebagai ancaman besar, meragukan

kemampuan diri, dan cenderung frustrasi atau mudah menyerah. Orientasi negatif ini,

menurut riset yang dirangkum dalam berbagai literatur psikologi klinis, berkaitan erat

dengan munculnya depresi, kecemasan berlebih, dan perilaku menghindar.

Kabar baiknya? Orientasi masalah bukan sesuatu yang permanen. Riset terbaru dari Frontiers

in Education (2025) menunjukkan bahwa kemampuan problem solving dapat dikembangkan

dan dilatih, terutama melalui pembelajaran berbasis masalah nyata di lingkungan yang

mendukung (Velázquez-Tejeda & Goñi Cruz, 2024).

Empat Keterampilan Inti dalam Memecahkan Masalah

Berdasarkan model yang dikembangkan oleh D’Zurilla dan rekan-rekannya serta berbagai

penelitian terkini, ada empat keterampilan inti dalam proses pemecahan masalah yang efektif:

1. Pendefinisian dan Perumusan Masalah

Ini adalah langkah yang paling sering diabaikan, namun paling krusial. Sebelum mencari

solusi, kita perlu benar-benar memahami: “Apa sesungguhnya masalahnya?”

Penelitian dari Frontiers in Psychology (2024) menemukan fakta mengejutkan: banyak

mahasiswa kesulitan mengidentifikasi masalah secara spesifik karena lemahnya keterampilan

metakognitif, yaitu kemampuan untuk berpikir tentang cara kita berpikir. Akibatnya, mereka

seringkali berjuang keras mencari solusi untuk masalah yang salah (Zhan dkk., 2024).Coba terapkan teknik ini: ketika menghadapi masalah, tuliskan dulu secara detail terkait apa

faktanya, siapa yang terlibat, kapan terjadi, dan apa dampaknya. Kejelasan gambaran masalah

adalah separuh dari solusi.

2. Menghasilkan Alternatif Solusi

Setelah masalah terdefinisi dengan jelas, langkah berikutnya adalah menghasilkan sebanyak

mungkin kemungkinan solusi tanpa menghakimi terlebih dahulu. Prinsip ini dikenal sebagai

brainstorming dalam pemecahan masalah.

Studi terbaru dalam Frontiers in Psychology (2025) yang mengkaji pengembangan

kemampuan problem solving melalui pembelajaran interdisipliner menemukan bahwa siswa

yang terbiasa mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai bidang cenderung lebih kreatif dan

fleksibel dalam menghasilkan solusi alternatif (Zhang dkk., 2025).

3. Pengambilan Keputusan

Dari sekian banyak alternatif yang telah dihasilkan, kini saatnya memilih. Di sinilah banyak

orang kembali tersendat. Rasa takut membuat keputusan yang salah sering kali membuat kita

justru tidak memutuskan apa pun ini merupakan sebuah kondisi yang dikenal sebagai analysis

paralysis.

Riset tentang pengambilan keputusan dalam konteks organisasi yang diterbitkan di Frontiers

in Psychology (2024) menyoroti bahwa fleksibilitas kognitif ialah kemampuan untuk beralih

perspektif dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang adalah salah satu faktor paling kuat

yang membedakan para pemecah masalah yang efektif dari yang tidak (Audia, Laureiro-

Martinez, & Newark, 2024).

Baca Juga :  Penambahan proyek multiyears di Provinsi Jambi jelas cacat prosedur dan berpotensi melanggar hukum

Teknik sederhana yang bisa dicoba: buat daftar pro dan kontra dari setiap pilihan.

Pertimbangkan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. Dan ingat, dalam banyak

kasus, keputusan yang “cukup baik” yang diambil sekarang jauh lebih berharga daripada

keputusan yang “sempurna” yang tidak pernah terwujud.

4. Implementasi dan Verifikasi Solusi

Langkah terakhir adalah melaksanakan solusi yang dipilih, kemudian mengevaluasi hasilnya

secara jujur. Apakah masalahnya sudah terselesaikan? Apakah ada dampak sampingan yang

tidak terduga? Jika solusi pertama belum berhasil, proses ini dimulai kembali, hal ini bukan

sebagai kegagalan, melainkan sebagai pembelajaran.Pola pikir seperti ini sejalan dengan apa yang ditemukan oleh para peneliti tentang ketahanan

psikologis. Dalam sebuah studi di Frontiers in Psychology (2025) mengenai remaja dan

keseimbangan emosi, kemampuan untuk menghadapi tantangan dengan pendekatan yang

fleksibel dan terstruktur terbukti meningkatkan ketahanan psikologis seseorang dalam jangka

panjang (Yu & Liu, 2025).

Ketika Problem Solving Memudar: Hubungannya dengan Kesehatan

Mental

Ada satu hal yang jarang dibicarakan: kemampuan problem solving yang lemah bukan hanya

membuat kita gagal menyelesaikan masalah, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi

berbagai gangguan kesehatan mental.

Kurangnya kemampuan pemecahan masalah sosial dan orientasi masalah yang negatif telah

dikaitkan dengan depresi dan kecenderungan bunuh diri pada anak-anak maupun orang

dewasa, perilaku menyakiti diri sendiri, serta kekhawatiran yang berlebihan. Gaya pemecahan

masalah yang impulsif dan ceroboh juga sering terlihat pada individu dengan gangguan

kepribadian tertentu.

Sebaliknya, riset terbaru dari Frontiers in Psychology (2025) yang meneliti lebih dari 500

mahasiswa menemukan bahwa fleksibilitas psikologis yang erat kaitannya dengan kemampuan

problem solving yang berperan sebagai penengah signifikan antara kecemasan tentang masa

depan, depresi, dan stres. Mahasiswa yang fleksibel secara psikologis mampu mengelola

tekanan dengan jauh lebih baik (Frontiers in Psychology, 2025).

Data ini semakin mengkhawatirkan ketika kita melihat fakta bahwa sekitar 86% mahasiswa

melaporkan gejala depresi dan 80% mengalami kecemasan berdasarkan survei lintas negara

tahun 2024–2025 (Rubio dkk., 2025). Namun hanya sekitar 12% dari mereka yang mengakses

layanan kesehatan mental yang tersedia. Salah satu penyebabnya: banyak yang tidak tahu

bagaimana mulai memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.

Kampus sebagai Laboratorium Problem Solving

Seperti halnya observational learning yang terjadi melalui pengamatan terhadap orang lain di

sekitar kita, kemampuan problem solving pun banyak dibentuk oleh lingkungan belajar.

Kampus, dengan segala kompleksitasnya, adalah tempat yang ideal untuk mengasah

kemampuan ini.Penelitian dari Shanghai Normal University yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology

(2025) mengungkap bahwa pembelajaran tematik interdisipliner yaitu pendekatan belajar yang

Baca Juga :  Idealis Mahasiswa Tergadaikan di Momen Kontestasi Pilkada

menggabungkan berbagai mata pelajaran dalam konteks masalah nyata yang terbukti efektif

mengembangkan kemampuan problem solving mahasiswa. Tiga elemen penting yang

mendukung perkembangan ini adalah: fondasi pengetahuan dan keterampilan yang kuat,

sumber daya lintas disiplin yang tersedia, dan lingkungan sosial yang mendukung (Zhang dkk.,

2025).

Menariknya, penelitian tentang self-efficacy atau keyakinan pada kemampuan diri sendiri

menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang tinggi berkorelasi langsung dengan kemampuan

problem solving yang lebih baik. Mahasiswa dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih

percaya diri, bersedia mengeksplorasi berbagai strategi penyelesaian, dan lebih gigih ketika

menghadapi masalah yang kompleks (Ningrum & Rafsanjani, 2024 dalam Melior, 2025).

Catatan Kritis: Ketika Problem Solving Tidak Cukup

Penting untuk diingat bahwa meskipun problem solving adalah keterampilan yang sangat

berharga, ia bukan obat untuk segala hal. Ada beberapa kondisi di mana pendekatan ini perlu

dilengkapi dengan dukungan profesional:

Pertama, ketika masalah yang dihadapi berkaitan dengan kondisi kesehatan mental

yang memerlukan penanganan klinis, seperti depresi berat, gangguan kecemasan, atau

trauma.

Kedua, ketika seseorang terjebak dalam siklus masalah yang sama berulang kali, yang

mungkin mengindikasikan pola pikir atau perilaku yang memerlukan pendekatan

terapeutik.

Ketiga, ketika masalah melibatkan faktor-faktor eksternal yang berada di luar kendali

individu, seperti kemiskinan struktural atau diskriminasi sistemik.

Dengan kata lain, problem solving yang baik juga mencakup kemampuan untuk mengenali

kapan kita membutuhkan bantuan orang lain dan hal itu bukan tanda kelemahan, melainkan

justru bentuk pemecahan masalah yang paling bijaksana.

Refleksi: Bagaimana Caramu Menghadapi Masalah?

Kembali ke adegan di awal: kamu duduk di tepi tempat tidur, dikelilingi masalah yang terasa

tak berujung. Sekarang, dengan pemahaman tentang problem solving, pertanyaannya berubah.Bukan lagi, “Dari mana harus mulai?” melainkan: “Apa satu masalah paling konkret yang bisa

aku definisikan malam ini?” Bukan, “Apa solusi terbaik?” melainkan: “Apa saja pilihan yang

aku miliki, sekecil apa pun?” Dan bukan, “Mengapa aku selalu gagal?” melainkan: “Apakah

aku sedang melihat ini sebagai tantangan atau sebagai ancaman?”

Kemampuan problem solving bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang. Ia

adalah keterampilan yang bisa dipelajari, dilatih, dan disempurnakan seiring waktu. Dan setiap

masalah yang berhasil kamu hadapi mau itu sekecil apa pun adalah bukti nyata bahwa kamu

sedang tumbuh.

Jadi, masalah apa yang sedang kamu hadapi hari ini? Dan langkah kecil apa yang bisa

kamu ambil untuk mulai mendefinisikannya dengan lebih jelas?

 

Oleh : Putri khumairah
Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Jambi

Editor : Admin

Berita Terkait

RATUSAN MASA PMII JAMBI PADATI KANTOR MAPOLDA JAMBI,KASUS SELESAI KEMBALI KE RESTORATIF JUSTICE,INI BENTROKAN BUKAN PENGEROYOKAN!!
DUGAAN SKANDAL FEE ANGGARAN REVITALISASI SD DAN PAUD DISDIK TANJAB TIMUR SISTEMATIS YANG MENGGURITA
Supremasi Sipil dalam Ujian
Oleh: Insan Nurrohman, S.I.P. “Curhatan Seorang Kader”
Rangga H. Wibowo: Polemik DAK dan Peristiwa Bank 9 Jambi, Alarm Bagi Pemerintahan Daerah
Arby Tya Aprilianif Surahman Serukan “Sinergi Sipil Nasional”: Rakyat Harus Bersatu mengawal kebijakan Pemerintah
Transparansi Anggaran DAK Pendidikan: Dugaan Korupsi di Era Kepemimpinan Provinsi Jambi
Ketika Sekolah Membiarkan Api Menjadi Kebakaran: Pelajaran Pahit dari Konflik Guru dan Murid di Tanjabtim

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 13:57 WIB

Problem Solving: Seni Menemukan Jalan Keluar.

Minggu, 7 Juni 2026 - 12:49 WIB

Dari Anak Petani Menjadi Magister, Kisah Inspiratif Mujib Barohman Menembus Batas Melalui Pendidikan dan Aktivisme

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:08 WIB

Kawasan Industri hanya Visi di atas Kertas, Iin Habibi Dorong Gubernur Fokus pada Industrialisasi dan Hilirisasi

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:07 WIB

Dinilai Terlalu Dini Diangkat, Figur “Politisi Muda Visioner” Dinilai Belum Teruji di Tengah Persoalan Rakyat Tebo

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:45 WIB

KESATUAN PEMUDA PELAJAR JAMBI: Saatnya Pemuda Mengambil Peran dalam Penentuan Pemimpin Jambi

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:44 WIB

Dunia Pendidikan Kembali Tercoreng, Siswi MTs di Kota Jambi Dilarang Ikut Ujian Karena Tunggakan Administrasi

Selasa, 5 Mei 2026 - 18:36 WIB

“Aksi Demonstrasi Darurat Pendidikan Jambi: Momentum Hardiknas, Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Perubahan”

Minggu, 26 April 2026 - 19:55 WIB

Soroti Maraknya Peredaran Rokok Ilegal yang Rugikan Negara dan Ancam Kesehatan Publik, ISMEI WILAYAH 1 Akan Lakukan Aksi Demonstrasi Menuntut Kakanwil Bea Cukai Sumut untuk Mundur

Berita Terbaru

Opini

Problem Solving: Seni Menemukan Jalan Keluar

Selasa, 9 Jun 2026 - 09:57 WIB

Dok.Istimewa

Berita

Problem Solving: Seni Menemukan Jalan Keluar.

Senin, 8 Jun 2026 - 13:57 WIB