Pernahkah kamu berada di dalam kelas dan dihadapkan pada sebuah soal atau tugas yang
tampak begitu rumit? Kamu sudah membaca materi berkali-kali, berdiskusi dengan teman,
bahkan mencari referensi tambahan, tetapi solusi yang tepat masih terasa sulit ditemukan. Di
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
tengah tuntutan akademik yang semakin kompleks, banyak siswa dan mahasiswa mengalami
kebingungan ketika harus menganalisis masalah, menentukan strategi penyelesaian, dan
mengambil keputusan yang tepat. Situasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam belajar
tidak hanya bergantung pada kemampuan menghafal materi, tetapi juga pada keterampilan
problem solving yang dimiliki seseorang.
Jika kamu pernah merasakan itu, kamu tidak sendirian. Dan yang lebih penting, ada penjelasan
ilmiah mengapa otak kita sering merasa kewalahan dan ada juga cara-cara yang telah terbukti
secara ilmiah untuk menghadapinya. Itulah yang disebut problem solving atau kemampuan
pemecahan masalah.
Apa Sebenarnya Problem Solving Itu?
Dalam ilmu psikologi, problem solving didefinisikan sebagai proses kognitif-perilaku yang
diarahkan oleh diri sendiri, di mana seseorang berusaha menemukan solusi yang efektif untuk
menghadapi masalah-masalah spesifik dalam kehidupan sehari-hari. Definisi ini pertama kali
dirumuskan oleh D’Zurilla dan Goldfried pada tahun 1971, dan hingga hari ini masih menjadi
fondasi utama dalam penelitian psikologi klinis dan pendidikan.
Lebih sederhana lagi, para psikolog menjelaskan bahwa ketika kita berhadapan dengan suatu
masalah, otak kita menjalani tiga langkah utama: pertama, membentuk representasi atau
gambaran tentang masalah tersebut; kedua, merencanakan strategi pendekatan dan ketiga,
mengeksekusi strategi itu sambil terus mengevaluasi hasilnya (EBSCO Research, 2024).
Urutan dasar ini berulang setiap kali kita menghadapi tantangan baru.
Yang menarik, para peneliti dari University of California dalam jurnal Frontiers in Psychology
(2024) menegaskan bahwa problem solving adalah domain luas dari perilaku manusia yang
diarahkan oleh tujuan. Artinya, kemampuan ini bukan hanya tentang menyelesaikan soal
matematika atau tugas kantor, melainkan seluruh dimensi kehidupan kita yang membutuhkan
keputusan dan tindakan (Rhodes, Richland, & Alcálá, 2024).
Dua Wajah Problem Solving: Orientasi Positif vs. NegatifBayangkan dua orang mahasiswa yang sama-sama mendapat nilai buruk di ujian. Mahasiswa
A langsung berpikir: “Oke, berarti metode belajarku perlu diperbaiki. Apa yang bisa
kulakukan?” Sementara mahasiswa B langsung tenggelam dalam pikiran: “Ini bencana. Aku
memang bodoh. Tidak ada gunanya mencoba.”
Dalam kerangka teori D’Zurilla dan Nezu (1999) yang dikembangkan lebih lanjut hingga kini,
perbedaan ini menggambarkan apa yang disebut problem orientation, yaitu skema meta-
kognitif yang relatif stabil dalam diri seseorang ketika menghadapi masalah. Orientasi ini
terbagi menjadi dua:
1. Orientasi Positif: Memandang masalah sebagai tantangan yang bisa diatasi, percaya
bahwa solusi bisa ditemukan, dan bersedia meluangkan waktu serta energi untuk
memecahkannya.
2. Orientasi Negatif: Memandang masalah sebagai ancaman besar, meragukan
kemampuan diri, dan cenderung frustrasi atau mudah menyerah. Orientasi negatif ini,
menurut riset yang dirangkum dalam berbagai literatur psikologi klinis, berkaitan erat
dengan munculnya depresi, kecemasan berlebih, dan perilaku menghindar.
Kabar baiknya? Orientasi masalah bukan sesuatu yang permanen. Riset terbaru dari Frontiers
in Education (2025) menunjukkan bahwa kemampuan problem solving dapat dikembangkan
dan dilatih, terutama melalui pembelajaran berbasis masalah nyata di lingkungan yang
mendukung (Velázquez-Tejeda & Goñi Cruz, 2024).
Empat Keterampilan Inti dalam Memecahkan Masalah
Berdasarkan model yang dikembangkan oleh D’Zurilla dan rekan-rekannya serta berbagai
penelitian terkini, ada empat keterampilan inti dalam proses pemecahan masalah yang efektif:
1. Pendefinisian dan Perumusan Masalah
Ini adalah langkah yang paling sering diabaikan, namun paling krusial. Sebelum mencari
solusi, kita perlu benar-benar memahami: “Apa sesungguhnya masalahnya?”
Penelitian dari Frontiers in Psychology (2024) menemukan fakta mengejutkan: banyak
mahasiswa kesulitan mengidentifikasi masalah secara spesifik karena lemahnya keterampilan
metakognitif, yaitu kemampuan untuk berpikir tentang cara kita berpikir. Akibatnya, mereka
seringkali berjuang keras mencari solusi untuk masalah yang salah (Zhan dkk., 2024).Coba terapkan teknik ini: ketika menghadapi masalah, tuliskan dulu secara detail terkait apa
faktanya, siapa yang terlibat, kapan terjadi, dan apa dampaknya. Kejelasan gambaran masalah
adalah separuh dari solusi.
2. Menghasilkan Alternatif Solusi
Setelah masalah terdefinisi dengan jelas, langkah berikutnya adalah menghasilkan sebanyak
mungkin kemungkinan solusi tanpa menghakimi terlebih dahulu. Prinsip ini dikenal sebagai
brainstorming dalam pemecahan masalah.
Studi terbaru dalam Frontiers in Psychology (2025) yang mengkaji pengembangan
kemampuan problem solving melalui pembelajaran interdisipliner menemukan bahwa siswa
yang terbiasa mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai bidang cenderung lebih kreatif dan
fleksibel dalam menghasilkan solusi alternatif (Zhang dkk., 2025).
3. Pengambilan Keputusan
Dari sekian banyak alternatif yang telah dihasilkan, kini saatnya memilih. Di sinilah banyak
orang kembali tersendat. Rasa takut membuat keputusan yang salah sering kali membuat kita
justru tidak memutuskan apa pun ini merupakan sebuah kondisi yang dikenal sebagai analysis
paralysis.
Riset tentang pengambilan keputusan dalam konteks organisasi yang diterbitkan di Frontiers
in Psychology (2024) menyoroti bahwa fleksibilitas kognitif ialah kemampuan untuk beralih
perspektif dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang adalah salah satu faktor paling kuat
yang membedakan para pemecah masalah yang efektif dari yang tidak (Audia, Laureiro-
Martinez, & Newark, 2024).
Teknik sederhana yang bisa dicoba: buat daftar pro dan kontra dari setiap pilihan.
Pertimbangkan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. Dan ingat, dalam banyak
kasus, keputusan yang “cukup baik” yang diambil sekarang jauh lebih berharga daripada
keputusan yang “sempurna” yang tidak pernah terwujud.
4. Implementasi dan Verifikasi Solusi
Langkah terakhir adalah melaksanakan solusi yang dipilih, kemudian mengevaluasi hasilnya
secara jujur. Apakah masalahnya sudah terselesaikan? Apakah ada dampak sampingan yang
tidak terduga? Jika solusi pertama belum berhasil, proses ini dimulai kembali, hal ini bukan
sebagai kegagalan, melainkan sebagai pembelajaran.Pola pikir seperti ini sejalan dengan apa yang ditemukan oleh para peneliti tentang ketahanan
psikologis. Dalam sebuah studi di Frontiers in Psychology (2025) mengenai remaja dan
keseimbangan emosi, kemampuan untuk menghadapi tantangan dengan pendekatan yang
fleksibel dan terstruktur terbukti meningkatkan ketahanan psikologis seseorang dalam jangka
panjang (Yu & Liu, 2025).
Ketika Problem Solving Memudar: Hubungannya dengan Kesehatan
Mental
Ada satu hal yang jarang dibicarakan: kemampuan problem solving yang lemah bukan hanya
membuat kita gagal menyelesaikan masalah, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi
berbagai gangguan kesehatan mental.
Kurangnya kemampuan pemecahan masalah sosial dan orientasi masalah yang negatif telah
dikaitkan dengan depresi dan kecenderungan bunuh diri pada anak-anak maupun orang
dewasa, perilaku menyakiti diri sendiri, serta kekhawatiran yang berlebihan. Gaya pemecahan
masalah yang impulsif dan ceroboh juga sering terlihat pada individu dengan gangguan
kepribadian tertentu.
Sebaliknya, riset terbaru dari Frontiers in Psychology (2025) yang meneliti lebih dari 500
mahasiswa menemukan bahwa fleksibilitas psikologis yang erat kaitannya dengan kemampuan
problem solving yang berperan sebagai penengah signifikan antara kecemasan tentang masa
depan, depresi, dan stres. Mahasiswa yang fleksibel secara psikologis mampu mengelola
tekanan dengan jauh lebih baik (Frontiers in Psychology, 2025).
Data ini semakin mengkhawatirkan ketika kita melihat fakta bahwa sekitar 86% mahasiswa
melaporkan gejala depresi dan 80% mengalami kecemasan berdasarkan survei lintas negara
tahun 2024–2025 (Rubio dkk., 2025). Namun hanya sekitar 12% dari mereka yang mengakses
layanan kesehatan mental yang tersedia. Salah satu penyebabnya: banyak yang tidak tahu
bagaimana mulai memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.
Kampus sebagai Laboratorium Problem Solving
Seperti halnya observational learning yang terjadi melalui pengamatan terhadap orang lain di
sekitar kita, kemampuan problem solving pun banyak dibentuk oleh lingkungan belajar.
Kampus, dengan segala kompleksitasnya, adalah tempat yang ideal untuk mengasah
kemampuan ini.Penelitian dari Shanghai Normal University yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology
(2025) mengungkap bahwa pembelajaran tematik interdisipliner yaitu pendekatan belajar yang
menggabungkan berbagai mata pelajaran dalam konteks masalah nyata yang terbukti efektif
mengembangkan kemampuan problem solving mahasiswa. Tiga elemen penting yang
mendukung perkembangan ini adalah: fondasi pengetahuan dan keterampilan yang kuat,
sumber daya lintas disiplin yang tersedia, dan lingkungan sosial yang mendukung (Zhang dkk.,
2025).
Menariknya, penelitian tentang self-efficacy atau keyakinan pada kemampuan diri sendiri
menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang tinggi berkorelasi langsung dengan kemampuan
problem solving yang lebih baik. Mahasiswa dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih
percaya diri, bersedia mengeksplorasi berbagai strategi penyelesaian, dan lebih gigih ketika
menghadapi masalah yang kompleks (Ningrum & Rafsanjani, 2024 dalam Melior, 2025).
Catatan Kritis: Ketika Problem Solving Tidak Cukup
Penting untuk diingat bahwa meskipun problem solving adalah keterampilan yang sangat
berharga, ia bukan obat untuk segala hal. Ada beberapa kondisi di mana pendekatan ini perlu
dilengkapi dengan dukungan profesional:
Pertama, ketika masalah yang dihadapi berkaitan dengan kondisi kesehatan mental
yang memerlukan penanganan klinis, seperti depresi berat, gangguan kecemasan, atau
trauma.
Kedua, ketika seseorang terjebak dalam siklus masalah yang sama berulang kali, yang
mungkin mengindikasikan pola pikir atau perilaku yang memerlukan pendekatan
terapeutik.
Ketiga, ketika masalah melibatkan faktor-faktor eksternal yang berada di luar kendali
individu, seperti kemiskinan struktural atau diskriminasi sistemik.
Dengan kata lain, problem solving yang baik juga mencakup kemampuan untuk mengenali
kapan kita membutuhkan bantuan orang lain dan hal itu bukan tanda kelemahan, melainkan
justru bentuk pemecahan masalah yang paling bijaksana.
Refleksi: Bagaimana Caramu Menghadapi Masalah?
Kembali ke adegan di awal: kamu duduk di tepi tempat tidur, dikelilingi masalah yang terasa
tak berujung. Sekarang, dengan pemahaman tentang problem solving, pertanyaannya berubah.Bukan lagi, “Dari mana harus mulai?” melainkan: “Apa satu masalah paling konkret yang bisa
aku definisikan malam ini?” Bukan, “Apa solusi terbaik?” melainkan: “Apa saja pilihan yang
aku miliki, sekecil apa pun?” Dan bukan, “Mengapa aku selalu gagal?” melainkan: “Apakah
aku sedang melihat ini sebagai tantangan atau sebagai ancaman?”
Kemampuan problem solving bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang. Ia
adalah keterampilan yang bisa dipelajari, dilatih, dan disempurnakan seiring waktu. Dan setiap
masalah yang berhasil kamu hadapi mau itu sekecil apa pun adalah bukti nyata bahwa kamu
sedang tumbuh.
Jadi, masalah apa yang sedang kamu hadapi hari ini? Dan langkah kecil apa yang bisa
kamu ambil untuk mulai mendefinisikannya dengan lebih jelas?
Oleh : Putri khumairah
Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Jambi
Editor : Admin












