RadixNews-Yogyakarta, 19 Juni 2026 – Peristiwa pembubaran sebuah forum diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 15 Juni 2026 menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan. Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Umum Jagatara Indonesia, Rio Alfian Rosid, menilai bahwa ruang diskusi dan pertukaran gagasan harus tetap dijaga sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya demokrasi dan kehidupan intelektual di Indonesia.
Rio menegaskan bahwa pihaknya memahami masih banyak persoalan di Indonesia yang memerlukan perbaikan dan penyelesaian. Berbagai tantangan dalam penyelenggaraan negara, menurutnya, harus terus menjadi perhatian seluruh elemen bangsa.
“Kami memahami bahwa Indonesia masih memiliki banyak persoalan yang perlu diperbaiki. Kritik, masukan, dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan merupakan bagian penting dari proses demokrasi yang sehat,” ujar Rio.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menilai bahwa mahasiswa dan masyarakat memiliki peran strategis dalam mengawal penyelenggaraan negara. Keterlibatan publik dalam memberikan kritik dan pengawasan merupakan bentuk partisipasi yang perlu dijaga dan dihormati.
Namun demikian, Rio menegaskan bahwa tindakan pembubaran diskusi tidak mencerminkan sikap intelektual maupun etika yang seharusnya dijunjung tinggi dalam ruang demokrasi.
“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, pembubaran diskusi yang diwarnai dengan indikasi kekerasan bukanlah sikap yang mencerminkan intelektualitas dan etika. Setiap pihak seharusnya mengedepankan dialog, argumentasi, dan pertukaran gagasan secara terbuka,” katanya.
Menurut Rio, dampak dari pembubaran diskusi tersebut tidak hanya merugikan pihak yang terlibat secara langsung, tetapi juga dapat menimbulkan sentimen negatif terhadap gerakan mahasiswa dan masyarakat secara umum. Selain itu, peristiwa tersebut berpotensi menutup ruang dialog yang konstruktif dan solutif antara masyarakat dengan perwakilan pemerintah.
“Ketika ruang diskusi dibubarkan, yang hilang bukan hanya sebuah acara, tetapi juga kesempatan untuk membangun pemahaman bersama dan mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Situasi seperti ini dapat memunculkan sentimen negatif terhadap gerakan mahasiswa dan mempersempit ruang komunikasi antara masyarakat dan pemerintah,” jelasnya.
Rio berharap seluruh pihak dapat mengedepankan dialog, musyawarah, dan penghormatan terhadap kebebasan berpendapat sebagai fondasi penting dalam memperkuat demokrasi Indonesia.
“Bangsa ini akan semakin kuat jika setiap perbedaan diselesaikan melalui dialog yang konstruktif, bukan dengan pembungkaman. Mari bersama-sama menjaga ruang demokrasi yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada solusi,” pungkasnya.
Editor : Admin
Sumber Berita : Istimewa




